Terpisah namun kita searah.

Juli 12, 2020

...
Menuju pagi yang enggan aku harapkan, menuju hari dimana raga kita terpisah selamanya. Tak saling menggenggam lagi, tak saling tatap kembali, tak saling tertawa walau kita hanya saling menatap saja.

Sebuah keranda telah siap, dan altar untuk memandikanmu telah tersedia. Untuk terakhir kalinya aku genggam erat tanganmu, ku elus perlahan tangan yang entah kapan aku bisa genggam kembali. Membasuh perlahan tubuhmu yang ingin sekali aku dekap selama mungkin. Membelai rambut panjang hitammu, meneteskan perlahan air menyusuri wajahmu yang terpejam amat dalam.

Kain putih itu mulai melapisi tubuhmu, satu lapisan menuju lapisan lainnya. Dan kini hanya menyisakan wajahmu saja, yang akan aku tatap untuk terakhir kalinya. Dan teringat akan kisah kita dari awal jumpa hingga maut benar-benar memisahkan kita. Sebelum wajahmu tertutup seluruhnya, aku membisikan doa dan beberapa kalimat dekat telingamu.

"Sayang, apapun yang terjadi nanti, aku akan selalu mencintaimu hingga kapanpun. Walau berat aku akan merelakan kepergianmu. Aku ikhlas, aku ikhlas, aku ikhlas!. Kita terpisah namun kita satu arah. Tunggu aku disana dengan senyumanmu, dengan senyuman yang aku jatuh cinta padamu saat pertama kali kita bertemu." 

Selesai imam mengucap salam, dihantar keranda itu menuju tempat peristirahatan terakhir ragamu. Diiringi dengan banyak pelayat menuju pemakamanmu. Iringan tahlil tak henti terucap, dengan banyak harap bahwa kau dan aku akan baik-baik saja dimanapun kita berada. Walau tak bisa saling tatap, walau tak bisa saling mengucap. Di akhir hidup nanti aku percaya, kita akan berjumpa kembali dengan bahagia yang sama bahkan lebih dari adanya.

Tanah mulai menutupimu, perlahan; seakan mengucap selamat tinggal. Hening rasanya, saat segalanya  tentang kita berakhir di dunia ini; tanah mulai memenuhi kuburmu. Dan aku terduduk terdiam kembali, seraya pelayat sudah mulai pergi. Terdengar doa dari sayup isak sang ibunda, betapa menyakitkan memang sebuah kepergian, betapa lupa kalau kematian adalah yang paling dekat dengan kita.

Lelah tergulai aku di kamar kita, memeluk buku "Dinda". Menetes perlahan lalu mengalir air mata kembali. Kini kau benar-benar pergi, benar-benar tak ada ragamu lagi disini, dan aku sendiri menatap wajahmu yang menghiasi tampilan layar ponselku; kau tersenyum, senyum tercantik yang selalu aku kagumi. Dan kau akan tetap tersenyum selamanya di hati ini. Namun kesakitan dan kesedihan ini harus aku kemanakan?.

Bersambung...

You Might Also Like

0 komentar