Mukjizat

April 10, 2020

...
"Assalamualaikum A, bener Siti udah ga ada?" dengan isak tangis dan nada yang terbata Icha bertanya.

Dalam hati berusaha menyangkal, "Mana mungkin", "Tidak mungkin". Namun hati langsung terasa remuk hancur lebur, pikiran membuyar, menyentak bak bom atom meluluhlantakkan Hiroshima-Nagasaki pada saat itu. Air mata mengucur deras, tak pernah menangis sebegitu sakitnya, tak pernah menangis begitu perihnya hingga terasa raga, jiwa dan pikiran seakan terpisah melayang entah ke penjuru dunia yang mana. Tanpa memastikan kebenaran kabar tersebut, seluruh raga, seluruh jiwa mengiyakan untuk menangis sedahsyat dan sesakit mungkin.

Terakhir kami berkabar kami sedang bertengkar. Dia marah karena suaminya tak kunjung pulang, tak kunjung datang ke pelukan dia yang tersayang. Andai saja pada saat itu aku langsung pulang saja, andai saja pada sore itu aku ada di dekatnya, andai saja aku tetap di rumah tidak ikut pendakian ini dan begitu banyak pengandaian lainnya, yang tak akan jadi kenyataan selamanya.

Imajinasi tak terisi apapun; hanya sakit, patah, perih, hancur, pedih, siksa dan setiap rasa tentang kesakitan berada dalam diri ini. Hafied, seorang yang duduk disebelah ku, jadi tempat bersandar dan tempat pesakitan "ternyaman" saat itu. Kawan dalam mobil semuanya terkaget dan terheran, mungkin dalam benak mereka bertanya-tanya, ada apa gerangan ada kejadian apa yang terjadi hingga kawannya menangis hebat saat itu. Yang kuingat tak ada, selain suara tangisan diri sendiri dan banyak rapalan yang terucap sia-sia.

Betapa merasa jahatnya diri ini, betapa teganya seorang suami tidak ada disamping istrinya disaat terakhirnya di dunia, betapa merasa tak kuasa menghardik diri sendiri atas apa yang terjadi hari ini. Tuhan aku harap ini semua tidak nyata, semua kejadian ini hanya bohong belaka, semua ini hanya dalam imajiku saja. Jika memang benar ini terjadi, Tuhan aku harap mukjizat-Mu kali ini saja, sesudahnya aku tak akan berdoa lagi meminta apapun kepada-Mu asal hari ini dan kejadian ini benar-benar tidak terjadi. Padahal memastikan kabar tersebut saja belum, tapi tangis ini tak terbendung, sakit ini kian menggunung, perih ini semakin memalung, siksa ini tak ada habisnya malah semakin menggulung.

Semua kejadian tentang kami kebelakang memutar otomatis dalam isak tangis ini, kejadian lebih kurang enam bulan kebelakang pernikahan kita, terpapar nyata dalam benak. Tawamu, tatapan mata yang hanya kau punya, membaca puisi-puisi kita sebelum mengantar pada peluk ternyaman sebelum kita tertidur, membuat kuis di motor yang sepertinya hanya kita yang miliki, dan sebuah kejutan candle light dinner yang akan selalu aku ingat saat ulang tahunmu, dan banyak kejadian lainnya yang tertolak oleh tangisan yang tak bisa dihentikan.

Entah berapa lama aku menangis, yang jelas Hafied dengan rangkulannya semakin membenamkan aku pada sakit yang buat aku sulit bangkit, aku lupa segala. Sepertinya sudah sampai, aku diajak bangun dari keterpurukan saat itu. "Bor hayu hudang (ayo bangun), geus neupi (sudah sampai)" suara samar entah siapa yang ku ingat hanya itu saja. Lemas kian tak terkemas, mecoba menegakkan tubuh hingga bisa terduduk saja sulit bagiku. Setelah terduduk dan tangisku menenang, tak percaya apa yang aku lihat. Seagalanya kian menyata, mata tak bisa menolak apa yang tersirat disana.

Bersambung...

You Might Also Like

0 komentar