Pedih Yang Paling Perih

Maret 24, 2020

...

Telepon selular masih jadi pusat semestaku saat itu, mengabari keluarga tentang khawatirku yang tiap mili-detiknya menerkam jiwa, perlahan dan tersiksa.

Perjalanan pulangpun akhirnya kami tempuh juga, setelah tali-temali menguatkan tas kami di atas atap mobil. Dalam hati seiring mengucap "kuat sayang, tunggu aku pulang". Aku sudah tak ingat pukul berapa saat kami pulang, suasana hati kacau, pikiran terus meracau. Berbagai pengandaian terlintas, andai saja aku membawa motor, andai saja bapak supir sudah bergegas sejak dari siang, ANDAI SAJA AKU TIDAK IKUT PENDAKIAN INI.

Satu kejadian lagi menimpa kami, mobil mogok, bensin habis ucap bapak supir. Apalagi ya Tuhan, kesal semakin menyebal, aku ingin lekas pulang Tuhan. Semua yang di dalam mobil bergegas turun, memikirkan cara bagaimana mendapatkan bahan bakar mobil sialan ini. Posisi kami tidak menguntungkan, jarak stasiun pengisian bahan bakar terlalu jauh dan sedikit menanjak, tidak memungkinkan untuk didorong kendaraan nahas ini.

Tak pikir panjang, Sandy menghentikan salah seorang pengendara motor, sepertinya warga lokal, dia tidak menggunakan helm pada saat itu. Meminta bantuan agar mau mengantarkan ia menuju stasiun pengisian bensin terdekat. Dengan bermodal beberapa plastik, Sandy berangkat dengan bapak penolong yang bersedia membantu kami.

Pertanyaan yang sama masih terlontar dari pesan whatsapp, "a ian masih dimana?", "kira-kira jam berapa nyampe ke rumah?". Semakin menggunung kekesalan, badan yang kelelahan, hati yang gundah tidak karuan. "Semoga kau baik-baik saja, semoga hal yang buruk tidak terjadi di sana", hati terus menerus mengutarakannya. Merapal kalimat doa semata hanya pada sang esa.

Selang beberapa lama Sandy kembali, aku sudah duduk di mobil sedari tadi, membalas setiap pesan dari keluarga menunggu kepulangan yang terlalu lama pergi. Mobil sudah siap, kami bergegas berjalan kembali dicuaca dinginnya Cianjur saat itu.

Di perjalanan aku hanya bisa menyaksikan suasana dari dalam mobil saja, perkebunan, warung tepi jalan, lampu lampu kota dari kejauhan. Beberapa orang tertidur, sisanya masih terjaga dengan telepon selular masing-masing.

Pikiranku masih melanglang terbang, menghujam rapatnya khawatir tak terelakkan. Telepon seluler milikku berbunyi, pecahkan lamunan bayang istri tersayang sedang berbaring di ranjang IGD. Icha memanggil, sahabat baik istri menelponku saat itu, dalam hati bertanya, tak langsung ku angkat. Ada apa disana? Sedang tidak baik kah kau disana sayang?.

Tak lama berselang telepon itu aku angkat. Dengan nada tangis Icha mulai berbicara.

Bersambung...

You Might Also Like

0 komentar