...
Sebuah bendera kuning melambai-lambai seperti memanggil namun menatapku penuh kebencian. Aku menatap balik ia dengan pilu dan kesakitan. Tangisan tak terbendungkan, kenyataan memang menyakitkan. Namun takdir akan tetap melangkah maju ke depan, meski memang takdir adalah ketetapan-Nya yang tak bisa dinafikan.
Langkah gontai perlahan, ditemani beberapa kawan yang berusaha menolong langkahku menuju rumah. Aku tak bisa menatap mereka satu persatu, namun aku lupa mengucap terima kasih pada saat itu. Tangisku semakin meggeming tatkala perlahan mendekati rumah. Di arah sana samar terlihat Ummi, Bapak, Sifa dan kedua mertuaku dan sanak saudara memilu menyambutku. Tak sanggup aku melangkah lagi, segala penolakan tentang kepergianmu, tidak terbantah! Aku tak sanggup akan sebuah perpisahan yang teramat menyayat perih.
Aku tak ingin melihat di balik kain yang terbujur kaku di ruang tamu. Aku hanya ingin memeluk erat Ibu, meyakinkan diri bahwa segalanya nyata kian mengental. Tangisan yang luar biasa tak kuasa kuhentikan. Dan beberapa pelukan orang yang aku tak ingat, berusaha menenangkanku namun apa daya; hati hancur, pikiran melebur, pandangan kian kabur, jiwa lemah terus terbentur, raga goyah bak pahlawan yang gugur. Aku meracau dalam tangis tersakit yang pernah aku rasa, "Ian jahat, ian jahat, ian jahat, ian jahat, Ummi hampura ian jahat". Setiap orang yg memelukku dengan kata-kata menenangkan aku timpali dengan kata-kata itu. Hingga tak tahu sudah berapa kali aku mengucapkan itu. Tak ingin menegak sedikitpun, tubuh seakan memberi komando untuk terus merunduk, jangan menatap siapapun, terus salahkan dirimu hingga kau mati dalam tangisanmu.
Aku adalah lelaki terburuk, suami terjahat, menantu paling bodoh yang pernah ada di dunia. Perasaan sakit dan rasa bersalah berkecamuk, aku kecewa pada diri sendiri, kepada ego sendiri, kenapa bukan aku saja yang mati. Entah berapa lama aku menangis, tak ingin melihat istri tercinta yang mungkin arwahnya sedang menatap aku penuh amarah murka. Tak ingin mendengar apapun, ucapan siapapun. Yang terdengar di telinga hanya kalimat pertama dari paragraf ini saja, yang kian bergeming, dan aku hanya ingin berpaling dari kenyataan hidup menyakitkan yang teamat sering.
Di dalam tangis terbayang banyak senyum dirimu, banyak tawa darimu tersirat, ingin rasanya kupeluk erat dirimu yang akan terus melekat walau kita sudah tak lagi dekat. Aku menenang, tangisan mereda, dituntun untuk segera berwudu. Katanya agar amarah memadam, hati menenang, dan aku mulai mengikhlaskan kepergianmu.
Perlahan kubuka kain penutup, sesosok wajah kaku, pucat membisu. Wanita yang kucinta terpejam, dirimu terpejam untuk selamanya. Tak ada lagi tatap penuh harap jika masakanmu kurang enak saat ku makan, tak ada lagi kecup kening di hari sebelum aku berangkat bekerja, tak ada lagi suara dengkurmu yang buat aku sulit tertidur, tak ada lagi dirimu di sisiku.
Tak sanggup lagi menahan air mata setelah mengecup keningmu. Setelahnya, aku berusaha merapalkan ayat-ayat Al-quran kesukaanmu, menangis lagi, membaca Al-quran lagi, begitu berulang hingga tak terasa pagi telah tiba. Matahari menyinarkan segala kehangatan, walau hari ini aku tak mampu merasakan apapun selain kesakitan yang semakin meradang. Sebentar lagi sayang, aku semakin ketakutan.
Bersambung...
Aku tak ingin melihat di balik kain yang terbujur kaku di ruang tamu. Aku hanya ingin memeluk erat Ibu, meyakinkan diri bahwa segalanya nyata kian mengental. Tangisan yang luar biasa tak kuasa kuhentikan. Dan beberapa pelukan orang yang aku tak ingat, berusaha menenangkanku namun apa daya; hati hancur, pikiran melebur, pandangan kian kabur, jiwa lemah terus terbentur, raga goyah bak pahlawan yang gugur. Aku meracau dalam tangis tersakit yang pernah aku rasa, "Ian jahat, ian jahat, ian jahat, ian jahat, Ummi hampura ian jahat". Setiap orang yg memelukku dengan kata-kata menenangkan aku timpali dengan kata-kata itu. Hingga tak tahu sudah berapa kali aku mengucapkan itu. Tak ingin menegak sedikitpun, tubuh seakan memberi komando untuk terus merunduk, jangan menatap siapapun, terus salahkan dirimu hingga kau mati dalam tangisanmu.
Aku adalah lelaki terburuk, suami terjahat, menantu paling bodoh yang pernah ada di dunia. Perasaan sakit dan rasa bersalah berkecamuk, aku kecewa pada diri sendiri, kepada ego sendiri, kenapa bukan aku saja yang mati. Entah berapa lama aku menangis, tak ingin melihat istri tercinta yang mungkin arwahnya sedang menatap aku penuh amarah murka. Tak ingin mendengar apapun, ucapan siapapun. Yang terdengar di telinga hanya kalimat pertama dari paragraf ini saja, yang kian bergeming, dan aku hanya ingin berpaling dari kenyataan hidup menyakitkan yang teamat sering.
Di dalam tangis terbayang banyak senyum dirimu, banyak tawa darimu tersirat, ingin rasanya kupeluk erat dirimu yang akan terus melekat walau kita sudah tak lagi dekat. Aku menenang, tangisan mereda, dituntun untuk segera berwudu. Katanya agar amarah memadam, hati menenang, dan aku mulai mengikhlaskan kepergianmu.
Perlahan kubuka kain penutup, sesosok wajah kaku, pucat membisu. Wanita yang kucinta terpejam, dirimu terpejam untuk selamanya. Tak ada lagi tatap penuh harap jika masakanmu kurang enak saat ku makan, tak ada lagi kecup kening di hari sebelum aku berangkat bekerja, tak ada lagi suara dengkurmu yang buat aku sulit tertidur, tak ada lagi dirimu di sisiku.
Tak sanggup lagi menahan air mata setelah mengecup keningmu. Setelahnya, aku berusaha merapalkan ayat-ayat Al-quran kesukaanmu, menangis lagi, membaca Al-quran lagi, begitu berulang hingga tak terasa pagi telah tiba. Matahari menyinarkan segala kehangatan, walau hari ini aku tak mampu merasakan apapun selain kesakitan yang semakin meradang. Sebentar lagi sayang, aku semakin ketakutan.
Bersambung...







