Gunung Gede, Pedih Yang Paling Perih.
Januari 25, 2020
Awal Juli 2018.
Minggu pagi, dari ufuk timur matahari meninggi. Pagi itu hangat, mungkin karena susu coklat, tak terlalu dingin sejuk indah diiringi kabut yang mulai menipis. Suryakencana indah tenang seperti biasanya, sedikit ramai karena ini hari minggu, saat turun bagi banyak pendaki yang sudah naik dari sabtu pagi.
Dan kamu masih jadi sarapan pagi pikiranku, berharap kamu baik-baik saja setelah beberapa hari pulang dari rumah sakit, karna aku memutuskan untuk mendaki lagi. Kamu kesal aku mendaki lagi, hingga saat aku pamit, kau menolak untuk aku cium keningmu. Hanya itu yang terbesit dalam benakku pagi itu. Selain itu, semuanya terlihat biasa saja. Ada yang masih tertidur, ada yang sedari dini hari tadi sudah bergegas menuju puncak, tak ada kejadian pagi itu yang buatku terlalu khawatir tentangmu.
Sementara aku menyediakan makanan agar kita pulang lebih awal. Segera merapikan kantung tidur beberapa orang dan merapikan tiap sudut tenda agar tidak terlalu lama packing untuk pulang. Jam 10 siang kami bergegas pulang. Dari rencana awal kami akan turun lewat jalur Cibodas, kami memilih jalur Gunung Putri, agar tidak menanjak lagi, sepakat jalur Gunung Putri kami pilih.
Diperjalanan turunpun tak ada yang aneh semua normal saja, tak ada kejadian yang menimpaku ataupun teman yang lainnya. Selamat hingga sampai basecamp untuk langsung beristirahat makan, rebahan, mandi dan saling mengabari keluarga di rumah.
"yahh, masih dimana?"
Satu pesan muncul saat membuka mode pesawat pada ponsel. 15.47 waktu tertulis pada pesannya, satu jam yang lalu. Bergegas aku membalas.
"aku baru sampe bawah yaaa"
"nunggu dijemput, sama temen sandi"
Setelah itu kami saling bertukar kabar, ternyata dia baik-baik saja, dari isi pesan yang kuterima. Syukurku menyeruak, sedikit kekhawatiran hilang, banyak rindu yang terbentang. Bergegas aku membersihkan diri dari peluh debu yang saat itu memang sedang kemarau.
"udah jalan pulang yaahh?"
Azan magrib berkumandang, sebuah pesan kembali mengingatkan, agar aku segera pulang. Kabar buruk, jemputan telat datang. Jalur ke arah puncak ditutup, sial!!!.
"jemputan terlambat"
"arah puncak jalur ditutup"
"aku pulang pasti telat"
Dari pesan ini, kita mulai bertengkar, karena aku tak kunjung pulang, tak sesuai dengan apa yang aku janjikan. Setelah pertengkaran, tidak ada lagi pesan darinya. Aku pikir dia hanya marah sesaat, besok masih bisa bertemu. Oh ya, dan aku janji akan makan sate maranggi langganan kita besok, aku yakin besok dia akan tersenyum seperti biasanya. Karena temu adalah obat dari segala rindu.
Sang supir tersesat, jam akan segera menunjuk ke angka sembilan, sial!!!. Kejadian-kejadian tidak masuk akal mulai mengganggu pikiran. Tidak tenang, badan sudah lelah, hati sudah gundah, dan kamu masih jadi topik di pikiranku, karena belum ada satu pesan darimu yang aku terima. Pikirku masih sama, mungkin kamu masih marah.
Mobil sudah tiba, bersyukur walau waktu sudah terlalu malam untuk pulang. Tak kudengar apapun alasan supir hingga bisa tersesat, segera bergegas barang kami naikan. Disaat kami menaikan barang, terdengar gawai berbunyi di kantung celana. Aku kira kamu sudah tidak marah, namun ternyata ayah yang menelponku dari sana.
"a ian masih dimana?"
"ian masih di cianjur, ini mau pulang pak, mobil baru sampai."
"ohh iya a, ini si teteh mau dibawa ke ugd, a ian lekas pulang, tapi tenang ada ummi ada si sifa mau nganterin."
Satu lagi kejadian yang buat hati dan pikiran kacau, khawatir mulai memenuhi pikiran lagi. Hati mulai berdegup semakin kencang melebihi apapun, teman yang lain mulai menenangkan aku. Aku hanya bisa tersenyum, walau dalam hati ingin segera berlari pulang.
Bersambung...
Dan kamu masih jadi sarapan pagi pikiranku, berharap kamu baik-baik saja setelah beberapa hari pulang dari rumah sakit, karna aku memutuskan untuk mendaki lagi. Kamu kesal aku mendaki lagi, hingga saat aku pamit, kau menolak untuk aku cium keningmu. Hanya itu yang terbesit dalam benakku pagi itu. Selain itu, semuanya terlihat biasa saja. Ada yang masih tertidur, ada yang sedari dini hari tadi sudah bergegas menuju puncak, tak ada kejadian pagi itu yang buatku terlalu khawatir tentangmu.
Sementara aku menyediakan makanan agar kita pulang lebih awal. Segera merapikan kantung tidur beberapa orang dan merapikan tiap sudut tenda agar tidak terlalu lama packing untuk pulang. Jam 10 siang kami bergegas pulang. Dari rencana awal kami akan turun lewat jalur Cibodas, kami memilih jalur Gunung Putri, agar tidak menanjak lagi, sepakat jalur Gunung Putri kami pilih.
Diperjalanan turunpun tak ada yang aneh semua normal saja, tak ada kejadian yang menimpaku ataupun teman yang lainnya. Selamat hingga sampai basecamp untuk langsung beristirahat makan, rebahan, mandi dan saling mengabari keluarga di rumah.
"yahh, masih dimana?"
Satu pesan muncul saat membuka mode pesawat pada ponsel. 15.47 waktu tertulis pada pesannya, satu jam yang lalu. Bergegas aku membalas.
"aku baru sampe bawah yaaa"
"nunggu dijemput, sama temen sandi"
Setelah itu kami saling bertukar kabar, ternyata dia baik-baik saja, dari isi pesan yang kuterima. Syukurku menyeruak, sedikit kekhawatiran hilang, banyak rindu yang terbentang. Bergegas aku membersihkan diri dari peluh debu yang saat itu memang sedang kemarau.
"udah jalan pulang yaahh?"
Azan magrib berkumandang, sebuah pesan kembali mengingatkan, agar aku segera pulang. Kabar buruk, jemputan telat datang. Jalur ke arah puncak ditutup, sial!!!.
"jemputan terlambat"
"arah puncak jalur ditutup"
"aku pulang pasti telat"
Dari pesan ini, kita mulai bertengkar, karena aku tak kunjung pulang, tak sesuai dengan apa yang aku janjikan. Setelah pertengkaran, tidak ada lagi pesan darinya. Aku pikir dia hanya marah sesaat, besok masih bisa bertemu. Oh ya, dan aku janji akan makan sate maranggi langganan kita besok, aku yakin besok dia akan tersenyum seperti biasanya. Karena temu adalah obat dari segala rindu.
Sang supir tersesat, jam akan segera menunjuk ke angka sembilan, sial!!!. Kejadian-kejadian tidak masuk akal mulai mengganggu pikiran. Tidak tenang, badan sudah lelah, hati sudah gundah, dan kamu masih jadi topik di pikiranku, karena belum ada satu pesan darimu yang aku terima. Pikirku masih sama, mungkin kamu masih marah.
Mobil sudah tiba, bersyukur walau waktu sudah terlalu malam untuk pulang. Tak kudengar apapun alasan supir hingga bisa tersesat, segera bergegas barang kami naikan. Disaat kami menaikan barang, terdengar gawai berbunyi di kantung celana. Aku kira kamu sudah tidak marah, namun ternyata ayah yang menelponku dari sana.
"a ian masih dimana?"
"ian masih di cianjur, ini mau pulang pak, mobil baru sampai."
"ohh iya a, ini si teteh mau dibawa ke ugd, a ian lekas pulang, tapi tenang ada ummi ada si sifa mau nganterin."
Satu lagi kejadian yang buat hati dan pikiran kacau, khawatir mulai memenuhi pikiran lagi. Hati mulai berdegup semakin kencang melebihi apapun, teman yang lain mulai menenangkan aku. Aku hanya bisa tersenyum, walau dalam hati ingin segera berlari pulang.
Bersambung...



0 komentar